Aku Sang Pengembara

Setengah bulan sebelum Ujian Nasional berlangsung, aku dan teman sekelasku, Ahaw, pergi ke Barabai. Tujuan kami kesana bukan untuk mencari gadis-gadis Murakata, melainkan untuk mengambil pesanan kunci jawaban Buku Detik-detik Ujian Nasional 2010.

Minggu, 7 Maret 2010, ya hari itu merupakan akhir pekan yang tepat untuk melepas penat setelah bersekolah selama 6 hari. Pagi minggu itu aku dan Ahaw berangkat menuju Barabai, lumayan jauh sih perjalanan kami, maklum itu pertama kalinya aku menyetir motor spin dengan jarak tempuh yang jauh, sebelumnya sih hanya bolak-balik dari rumah ke Kelua saja, ya paling-an 7 km, tak seperti ini.

Sesampai di Pantai Hambawang, kemudi kendaraan aku serahkan kepada Ahaw, ia lebih tau tentang seluk beluk kota Wadai Apam (terkenal dg kue Apam Barabai) itu. Sungguh, aku benar-benar merasa asing dengan kota ini.

Tak terasa Ahaw mendaratkan kendaraan ku di depan sebuah bangunan besar, megah, dan indah. apa itu? Kayaknya sebuah masjid? Iya benar, ternyata itu sebuah mesjid kebanggaan orang Barabai. Masjid itu bernama Mesjid Agung Riyadusshalihin. Aku baru tau namanya setelah diberi tempe tahu oleh @Auroraqhysha.

Sambil menunggu teman ku datang mengantarkan pesanan. Ahaw mengajakku untuk berfoto-foto dulu di mesjid itu. Tak berlangsung lama, ternyata Sadam sudah ada di beranda mesjid, transaksi pun terjadi, aku serahkan harga diriku uang, dan ia menyerahkan buku. Seusai itu Sadam mengajak kerumahnya, makan kue cakuduk (pisang goreng), minum minuman rasa-rasa, dan cek out dari istananya. Sadam mengajak aku dan Ahaw untuk melihat-lihat keindahan kotanya, berkeliling muter-muter kesana kemari, sampai akhirnya berlabuh di komplek sekolahan. Entah disana itu ada sekolahan apa saja, persetan aku mikirin itu. Yang jelas sekarang aku berada di sekolah kebanggaan warga Murakata, SMAN 1 Barabai.


Lapangan SMAN 1 Barabai (bangunan lama)


SMAN 1 Barabai (bangunan baru)

Layaknya seorang tour guide, Sadam menjelaskan seluk-beluk sekolahnya, aku hanya manggut-manggut, karena sekolahnya lebih bagus daripada sekolahku. Ingin rasanya aku mencuri bangunan sekolah itu, aku bawa pulang ke kampung, aku letakkan di samping rumahku, dan aku menjadi kepala sekolahnya.

Aku sudah puas memelototi bangunan SMAN 1 Barabai yang sepi itu. Yah maklum hari minggu, siapa coba yang mau sekolah hari minggu? Gak ada kale. Aku pamitan dengan Sadam, saatnya menganyuh kembali Spin menuju Home Sweet Home.

Cacing di perut seakan sedang kisruh, minta makan sama yang punya perut. Ahaw pun memutuskan singgah di sebuah depot makan, unik, lucu, karena ada di pinggiran sungai, udaranya sepai-sepoi, plang papan namanya bertuliskan Teletubbis. Kami minum roti bakar dan makan jus buah *tertukar*. sambil ngisi lambung, aku buka opmin dulu di hape Nokia 6303, hape itu sekarang sudah tewas dibunuh Yahudi. Ahaw smsn dengan seorang gadis Amuntai, gadis itu terlihat manis di profile picture facebooknya dengan mengenakan kaos & kerudung hitam. Dan sekarang, cacing-cacing tadi malah dugem di perut ku *gak nyambung*. дααααααhh, ternyata bukan main, Ahaw mengajak siswa SMAN 1 Amuntai grade 11 itu ketemuan. ”Ketemuannya di Plaza Hif lah, ia mambawa’e”, ”ayuza, tapi kita shalat dulu di Mesjid Agung lαh”. Syukur Ahaw mau diajak shalat. Kami shalat masing-masing. Usai shalat mata ku tak sengaja menangkap sebuah benda unik, aku perhatikan lagi, perhatikan lagi, dan lagi. WAH, ternyata itu Alquran berukuran besar. Aku tak mau melewatkan kesempatan berfoto disana.


Alquran berukuran besar di Mesjid Agung Amuntai

Aku kembali teringat rencana sebelum shalat tadi, menemui gadis SMA. Ahaw mengayuh spinku menuju Plaza. Masuk ke parkiran Plaza, mata kami mulai menjelajah mencari gadis tadi. Jeeng jeenggg, ada dua gadis masuk parkiran, pikiran ku mulai meraba kalau ia lah orang yang kami nanti. Benar, dia gadis dengan Vario hijau beserta satu gadis lagi, siapa dia? Kami belum kenalan. Aku merasa seperti zombie yang berjalan dengan dua bidadari disamping ku, aku tak berani berkata-kata, tak berani mengajak kenalan, tak berani minta nomer hapenya, tak berani minta password facebooknya, dan tak berani menembaknya *apa nih*. Ahaw juga demikian, tak berani ngajak kenalan. Sampai akhirnya dua gadis tadi pulang tanpa berkenalan dengan ku, sayang sekali.

Aku dan Ahaw rupanya juga tak betah berlama-lama di plaza ini. Sebuah keputusan aku ambil, pulang.

Jari-jari jam dirumah ku menunjukkan Setengah lima. Lama juga yah perjalanan ku hari ini? Bincang-bencong dengan Ahaw, Aku pun memberanikan diri bertanya dengannya, ”Haw, apa ngaran (nama) Facebook binian (gadis) tadi”, ”Cari Azna Ajha gen”. Aku catat nama itu di kepala ku, nanti mau ku ADD.

Lanjut kisah, Ahaw pulang ke Kelua. Aku mulai mencoba meng-add Azna Ajha, ternyata ia mengconfirm request ku. Mulailah aku dan dia berhubungan. Kirim-kiriman pesan facebook, tukeran nomer hape, tukeran baju, sms-an, dan beberapa hari kemudian, tepatnya 12 Maret 2010. Hal yang tak ku pikirkan sama sekali adalah

AKU JADIAN DENGANNYA

AKU JADIAN DENGANNYA

Sekali lagi deh, AKU JADIAN DENGANNYA.

Sampai sekarang aku masih pacaran dengannya. Ia selalu bisa memotivasiku disaat ku down. Ehh kok aku curhat disini, STOP.


 Ternyata CINTA itu tak dapat ditebak yah?


@Heriadi_Alhifni

©2011

4 responses to “Aku Sang Pengembara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s