Penyelamatan Modem

Kkkkkrrrriiiiiinnnggggggggggg… ada apa ini? Kok jam segini handphone ku berdering? Apa itu alarm yang otomatis berubah waktu dan nada deringnya? Apa hape ku sudah lali? Apa aku yang lali? Owhhh No…… Ternyata ada sebuah sms masuk, sms yang membangunkan ku dari mimpi indah, sms Ridha.

“Hif, jam berapa kita?”

“Jam setengah 10 gen”

“oke, tapi hadangi mama ku bulik pasar dulu lah”

“Siepp…”

Percakapan lewat sms diatas tadi membahas tentang rencana kami untuk ke kota yang terkenal dengan Itik Panggangnya, Amuntai. Ridha mau beli laptop, sedangkan aku sebagai supir Honda Beatnya sekaligus menjadi penasehat dan mau menyelamtkan modem.

Sudah saatnya aku bersiap-siap diri dulu, tapi kembali hp ku berdering. Kali ini giliran sms Yeni, teman sekelas saat masih MAN. Ia meminta aku segera membayar uang untuk acara buka bersama sore nanti. Smsnya aku cueki saja, tetapi aku kerumah Alfi, untuk menitip uang bayaran buka bersama itu.

Sepulang dari sana, aku bergegas menuju kamar mandi, aku mandi dan makan disana. Selesai itu, aku sudah siap untuk ke Amuntai. Oowh shit, aku lupa kalau masih telanjang. Saatnya menggunakan pakaian dan go kerumah Ridha.

Dalam perjalanan menuju Amuntai, ternyata sempat ada kemacetan di perbatasan desa Tayur dan Air Tawar. Aku menengok kesana kemari, bertanya-tanya dalam hati, tak dapat jawaban, aku pun bertanya pada rerumputan, juga tak dapat jawaban. Beberapa menit kemudian pertanyaan ku tadi terjawab, ternyata disana ada rajia. Setiap kendaraan yang melintas diperkosa diperiksa kelengkapannya. Disitu banyak polisi berdiri. Aku gemetar dan pipis dicelana karena aku masih trauma dengan polisi. Trauma ku itu disebabkan dulu aku pernah bla bla bla blaa…… aku tak mau menulisnya sekarang.

Disana terjadi sesuatu yang membuat TANDA TANYA BESAR, kok aku tidak diperkosa diperiksa oleh polisi, apa mereka tahu kalau aku pipis dicelana trauma? Alhamdulillah aku selamat, ini merupakan yang kedua kalinya aku aman dari rajia. Tapi, TANDA TANYA BESAR tadi masih terlintas di benakku. Mungkin saja rajia tadi hanya untuk orang yang terlihat dewasa, mungkin rajia itu untuk kendaraan bebek, atau mungkin rajia itu untuk mencari orang yang tidak puasa? I don’t know…

Petualangan tidak langsung menuju Amutai. Aku memutar kemudi menuju Tigarun, sebuah desa nan jauh, kampung halaman pacar ku. Aku kesana bukan untuk kencan, tapi untuk memberinya beberapa film dan mengambil modem, modem yang selama ini ia sandera, maklum saja, dulu aku tak bisa membayar tebusan untuk menyelamatkan my first
love modem.

Akses menuju kampung itu lumayan sulit dilalui, jalanannya banyak yang bolong-bolong, mungkin saja tadi malam digali oleh babi-babi hutan, atau mungkin juga itu sisa anak-anak yang bermain gali lobang tutup lobang. Apa pemerintah daerah sini tidak pernah mendengar jeritan warga Tigarun? Apa warga Tigarunnya yang tak pernah menjerit dan pasrah akan keadaan ini? Aku bukan tempe tak tahu.

Sudah hampir setahun aku gak pernah kesana. Aku sempat berharap kalau jalan menuju kampung itu sudah diperbaiki, tapi apa? Jalannya makin jauh dari kata mulus, seperti karung yang digerogoti tikus. Semoga jika nanti aku kesana, tidak ada lagi jalan yang berlobang, #prayfortigarun. Kalau tidak ada tujuan, aku takkan mau ketempat ini, bikin sakit pinggang saja. Hahaa….

Sampai dirumah Azna, aku serahkan harga diriku sebuah Flashdisk 2 GB dan Harddisk 500 GB yang ku bawa dari rumah, ia mau mengopi film dan game dulu. Sementara itu aku langsung beranjak dari rumah Azna menuju kota Amuntai tanpa membawa modem. Dalam perjalanan, aku sempat mengambil gambar, ini lah sebagian kecil kondisi jalan disini.

 


Akses menuju Desa Tigarun

Beberapa menit setelah meninggalkan Tigarun, aku memarkirkan kendaraan dimuka rumah seorang mahasiswa Pendidikan Matematika, Pajriannor alias Azie. Aku masuk ke minimarketnya, bertanya kepada Ayahnya “Azie ada kah?”, “Ada ai, hadangi setumat lah”, “inggih”. Tak lama kemudian Azie datang menghampiri ku, “Napa Hif?”, “Gani’e aku mancari laptop nah”, “Ok”. Beberapa menit kemudian lagi kami menjelajah. Toko pertama yang kami coba rampok hampiri yaitu Candi Agung Computer. Aku lihat dari kejauhan, sepertinya ada barang yang diinginkan Ridha, aku lihat lebih dekat lagi, ternyata itu seri Acer yang dikehendaki Ridha, Acer Aspire 4750. “Laptop ini harganya berapa mas?”, “3,9 juta dink ae”. Aku di panggil dink, apa aku masih seperti anak-anak? Mungkin wajah ku masih imut kali yah? Hahaa…. “Processornya apa mas?”, “Kalo yang ini Intel Pentium haja dink ae”. Aku terdiam. Ternyata memamng benar kali yah, aku ini masih terlihat seperti bocah ingusan yang imut, pipinya temben, yang bokernya dicebokin mama. Hahaaa….

Kami keluar dari toko itu seperti kedatangan kami, tanpa permisi. Kami seperti jelangkung kesiangan saja, yang datang tak diantar, pulang tak diundang, istilahnya gak ketukerkan?

Perjalanan berlanjut, sekarang giliran sebuah toko komputer dekat jembatan Bali (Banua Lima) yang kami santronin. Aku parkir Honda Beat, Azie parkir Honda Supra X. Aku masuk toko lebih dulu, karena aku pemimpin perburuan dihari itu. “Mas, ada Acer yang serinya pakai G?”, “Bentar yah”. Sambil menunggu kabar, aku melihat-lihat laptop yang dipajang disana. Tak berselang lama, ternyata sang penjaga toko memastikan tidak ada barang buruan kami. Kami capcus lagi.

Tak jauh dari tempat tadi, kami mampir lagi ke toko komputer dekat simpang empat Banua Lima. Aku berharap ini adalah toko terakhir yang kami datangi, aku sudah lelah, aku haus, aku lapar, aku gak puasa. Ternyata, Alhamdulillah disitu ada barang yang kami cari, Acer Aspire 4750G. Spesifikasinya sangat bagus untuk pemula dengan Intel Core i5, RAM 2 GB, nVIDIA nya 1 GB, Harddisk 500 GB, total VGA grafiknya 1,8 GB dan yang membuatku iri adalah baterainya kuat, tak seperti laptop ku hanya mammpu bertahan 1 jam. Wah wah wahhh, ini laptop mengalahkan spesifikasi punya ku, Acer Aspire 4741G. Penjaga toko menawarkannya dengan harga 6,5 juta. Melalui proses tawar menawar yang panjang, akhirnya penjaga toko mau menjual dengan harga 6,15 juta. Ternyata aku hebat juga yah dalam hal tawar-menawar. Hahaaa….

Kini giliran Ridha yang berpikir, orang tuanya hanya memberi uang 6 juta. Tapi syukur, si bocah ini membawa uang lebih dalam dompetnya. Transaksi pun berlangsung, ijab qabul dilaksanankan. Saatnya pulang dengan hati yang senang.

Aku jadi teringat dengan modem, apa aku harus menjemputnya ke Tigarun lagi? TIDAK. Ku ambil E63 dari bawah tanah saku, ku dial kontak dengan nama “Libchen”, ngobrol sedikit dan dia mau mengantarkan modem berserta HDD ku ke taman kota Amuntai.

Ridha, Azie, dan aku mengayuh kendaraan menuju taman. Sampai di taman, terlihat suasana sepi, tak seperti biasanya disana banyak orang jualan, jualan es kelapa, jualan batagor, jualan es campur, jualan harga diri dll. Taman ini juga terlihat beda dengan sebelumnya, karena rumput-rumpunya sudah mengering dan mati. Tugu ditengah taman juga terlihat beda.


Tugu Taman Putri Junjung Buih di Amuntai yang terlihat baru direnovasi

Aku dan Azie terlibat obrolan yang hangat, lebih hangat daripada cuasa di siang bolong itu. Bahas sana sini, ngomongin si anu dan si anu. Semoga saja pahala puasa kami tidak dipotong, Amin…. akhirnya Azna datang ke taman, ia menyerahkan sebuah bungkusan dibalut kresek hitam, aku raba dalamnya terasa keras, ternyata itu HDD ku. Tak sempat ngobrol panjang lebar dengan Azna, ia langsung pulang ke rumah.

Adzan sudah berkumandang, aku pamitan dengan Azie. Aku, Ridha, Laptop baru dan modem pulang bersama ke rumah. Dua puluh menit perjalanan akhirnya aku sampai dirumah. Saatnya shalat, dan makan merebahkan diri di kasur. Aku terlelap.

 

Pugaan, 24 Agustus 2011

Heriadi Al Hifni


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s